Slider

Gedung PKBM Himmata

Digunakan untuk Pembinaan dan Pendidikan bagi Anak Jalanan, Yatim dan Dhuafa.

Usaha Mandiri Pembuatan Sabun Cair Glassklin dan Otoklin

Proses Produksi dan Distribusi sabun ke Pemerhati Himmata.

Kegiatan Belajar Mengajar Harian

Diantaranya PAUD, Paket A setara SD, Paket B Setara SMP dan Paket C Setara SMA.

Musyawarah Kerja

Program rutin yang dilakukan untuk merancang program kerja tahunan.

Primeir League Bersama Kementerian Sosial RI

Mitra Himmata dalam Pendidikan dan Pembinaan Olahraga..

Pages

Tampilkan postingan dengan label syahrudin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syahrudin. Tampilkan semua postingan

28 Agu 2011

Masih Adakah Ruang Bagi Anak Jalanan

Hampir saja lupa kalau 23 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Momentum seperti ini seharusnya bisa dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap silang-sengkarutnya dunia anak yang terkebiri dan termarginalkan. Tak jarang anak-anak dari keluarga tak mampu sering “dipaksa” untuk secepatnya menjadi dewasa dengan beban tanggung jawab ekonomi keluarga secara berlebihan sehingga mereka tak sempat menikmati masa kanak-kanak yang ceria dan menyenangkan. Sudut-sudut kota pun sarat dengan keliaran anak-anak jalanan. Ironisnya, tak sedikit aparat yang menilai kehadiran mereka sebagai sampah masyarakat yang mesti dikarantina tanpa ada kemauan politik untuk membebaskan mereka dari cengkeraman kemiskinan dan ketidakadilan. Anak jalanan, agaknya masih menjadi salah satu problem klasik negara-negara berkembang, termasuk di negara kita. Kehadiran mereka di sudut-sudut kota yang pengap dan kumuh bisa jadi sangat erat kaitannya dengan jeratan kemiskinan yang menelikung orang tuanya. Masih jutaan keluarga di negeri ini yang hidup di bawah standar kelayakan. Untuk menyambung hidup, mereka dengan sengaja mempekerjakan anak-anak untuk berkompetisi di tengah pertarungan masyarakat urban yang terkesan liar dan kejam. Kekerasan demi kekerasan seperti mata rantai yang menempa sekaligus menggilas anak-anak miskin hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang terbelah. Tentu saja, kita tidak bisa bersikap apriori dengan mengatakan, “Salahnya sendiri, kenapa miskin?” Hmmm … kalau saja mereka punya pilihan untuk dilahirkan, sudah pasti tak ada seorang pun anak manusia yang ingin lahir dan besar di tengah-tengah deraan kemiskinan orang tuanya.
Dari sisi latar belakang kehidupan keluarga yang sangat tidak nyaman untuk tumbuh dan berkembang secara wajar, sesungguhnya tak ada tempat untuk menyia-nyiakan anak-anak miskin yang terlunta-lunta hidup di jalanan. Kehadiran mereka justru perlu diberdayakan dengan sentuhan lembut penuh kemanusiawian. Namun, berkembangnya sikap latah dan kemaruk ingin menjadi kaum borjuis dan bergaya hidup feodal secara instan agaknya telah membakar dan menghanguskan nilai-nilai kemanusiawian itu. Alih-alih menyantuni, gaya hidup borjuasi dan feodalistik itu, disadari atau tidak, justru telah memosisikan anak-anak jalanan makin kehilangan kesejatian dirinya. Kata-kata kasar dan perlakuan tak senonoh sudah menjadi hiasan hidup dalam keseharian anak-anak jalanan. Orang-orang kaya yang seharusnya bisa memberdayakan dan menggerakkan semangat hidup mereka justru makin tenggelam dalam sikap hipokrit, pongah, dan kehilangan kepekaan terhadap nasib sesama.
Kondisi itu diperparah dengan sikap negara yang belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan memadai buat mereka. Melalui tangan-tangan aparatnya, anak-anak jalanan justru digaruk dan dihinakan di atas mobil bak terbuka; diarak dan dipertontonkan kepada publik. Sungguh, sebuah perlakuan purba yang jauh dari nilai-nilai kesantunan masyarakat beradab.
Kini, ketika momentum HAN itu tiba, tak jugakah kita tergerak untuk menjadikan anak-anak jalanan sebagai generasi masa depan yang punya hak untuk hidup secara layak di bumi yang konon “gemah ripah loh jinawi” ini? Sudah tak ada ruangkah bagi mereka untuk bersemayam di dalam rongga hati kita hingga akhirnya mereka benar-benar harus kehilangan masa depan? ***

13 Okt 2010

Akreditasi Program Paket B dan Lembaga PKBM Himmata




Tim BAN PNF Jakarta hari Senin, 11 Oktober 2010 mendatangi PKBM Himmata untuk melakukan Akreditasi Program Paket B. Tujuan dilaksanakannya Akreditasi adalah : 

1) Untuk meningkatkan mutu pendidikan kesetaraan paket B dan 
    lembaga PKBM
2) Untuk peningkatan SDM tenaga pendidik/tutor,
3) Sebagai syarat untuk bisa Go Nasional. 

Demikian penjelasan yang disampaikan oleh ketua PKBM Himmata Bpk. Nurohman, S.Pd saat memberikan sambutan selamat datang kepada Tim BAN PNF . Tim Akreditasi Paket B yang dipimpin oleh Ibu Nureni Ekaningrum, M.Pd (Assesor 1) dan Bpk. Asep Mulyana, M.Pd (Assesor 2)  menyampaikan bahwa Syarat Akreditasi harus memenuhi delapan standar yang telah ditentukan BAN PNF yaitu Standar Isi, Standar proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Penilaian.
“Meski PKBM Himmata hanyalah sekolah non formal, namun jangan pandang sebelah mata. Prestasi yang diraih tak kalah dengan sekolah formal lainnya”.  Demikian harapan yang disampaikan oleh Sarkono,S.Sos.I salah seorang Tutor di PKBM dan sekaligus Sekretaris Yayasan Himmata. 

Sementara itu, dibulan yang sama tepatnya kamis, 14 Oktober 2010 Tim BAN PNF kembali mendatangi PKBM Himmata. Sama halnya dengan Program Paket B yang telah diakreditasi sebelumnya, kali ini Lembaga PKBM Himmata yang kembali diakreditasi. Harapan bersama yaitu dengan adanya atau tidak adanya akreditasi ini, PKBM Himmata tetap dapat meningkatkan kualitas SDM, akuntabilitas terhadap donatur terkait dan kepercayaan masyarakat yang begitu besar terhadap Himmata, sehingga kedepannya makin banyak anak-anak yang belum mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan dapat terwujud. Begitulah harapan yang disampaikan Syahrudin Kordinator Paket B PKBM Himmata.